Jakarta – Dalam langkah strategis menangani persoalan sampah yang kian menumpuk di berbagai kota besar Indonesia, pemerintah bersama melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian resmi antara pemerintah daerah setempat dan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) di bawah naungan Danantara.
Inisiatif ini bukan hanya sekadar proyek teknologi, melainkan jawaban konkret terhadap berbagai tantangan lingkungan, sosial, dan energi yang selama ini menghambat pertumbuhan kota-kota besar di Tanah Air.
Baca juga: Cara Cerdas Memulai Investasi Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula agar Tak Salah Langkah
1. Enam Aglomerasi Jadi Titik Awal Kerja Sama Strategis
Enam wilayah aglomerasi kini resmi menjalani kerja sama PSEL, yaitu:
- Lampung Raya
- Serang Raya
- Medan Raya
- Semarang Raya
- Kabupaten Bekasi
- Bogor Raya 2

Wilayah-wilayah ini dipilih karena sudah memasuki kondisi darurat sampah, di mana tumpukan limbah kota sudah melewati batas kemampuan pengelolaan lokal.
Kerja sama ini merupakan bagian dari gelombang kedua setelah sebelumnya beberapa daerah lain juga telah memulai proses MoU atau kerja sama serupa.
Baca juga: Usai Diretas, Nobitex Mulai Pulihkan Layanan Kripto Secara Bertahap
2. Target Ambisius: 25 Pembangkit dalam Tiga Tahun
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan 25 unit fasilitas PSEL di 62 kabupaten/kota dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, dengan target rampung dan beroperasi penuh pada 2028 mendatang.
Proyek ini dijadwalkan berjalan dalam beberapa tahap:
- 6 bulan untuk proses administrasi dan perizinan,
- 2 tahun untuk konstruksi dan pembangunan fisik fasilitas.
Artinya, diharapkan separuh fasilitas sudah selesai dibangun pada akhir 2027, dan seluruhnya beroperasi pada pertengahan 2028.
3. Investasi Besar dengan Skema Kolaboratif
Menurut Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, total dana yang dibutuhkan untuk keseluruhan proyek diperkirakan mencapai sekitar US$ 5 miliar, atau setara puluhan triliun rupiah. Namun, biaya pembangunan tidak sepenuhnya ditanggung oleh Danantara dan pemerintah daerah.
Skema pembiayaan yang digunakan adalah KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha), di mana Danantara, pemerintah daerah, dan pihak investor swasta akan berkolaborasi. Investor lain akan dipilih melalui proses tender dan seleksi mitra berdasarkan teknologi dan efisiensi terbaik untuk tiap lokasi.
Baca juga: Pahami Jenis-jenis Saham dan Keuntungannya Sebelum Berinvestasi
4. Alasan Utama: Mengatasi Krisis Sampah Kota dan Energi Bersih
Proyek PSEL lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengatasi persoalan tumpukan sampah perkotaan yang terus meningkat. Banyak daerah yang mengalami keterbatasan lahan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sehingga volume sampah mencapai titik kritis. Dengan teknologi waste-to-energy, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban lingkungan kini diubah menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan luas.
Selain itu, pengolahan sampah menjadi energi juga mendukung strategi transisi energi bersih nasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menciptakan peluang ekonomi baru.
5. Rangkaian Program Lebih Luas di Seluruh Indonesia
Proyek PSEL sendiri merupakan bagian dari rencana yang jauh lebih besar. Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas waste-to-energy di puluhan kota lainnya, bahkan beberapa pemerintah daerah seperti Banjarmasin, Bandung Raya, dan DKI Jakarta telah menyatakan dukungan atau mulai menandatangani MoU untuk proyek serupa.
Kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Danantara juga ditandatangani dalam konteks mengatasi masalah overkapasitas TPA dan penanganan sampah secara sistemik di ibu kota.
6. Dampak Dua Arah: Lingkungan dan Ekonomi
Program ini dipandang bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi langkah strategis yang:
- Mengurangi volume sampah di kota besar,
- Menghasilkan energi listrik bersih,
- Menciptakan lapangan kerja baru,
- Mendorong investasi domestik dan global, dan
- Mengembangkan hilirisasi teknologi pengelolaan limbah.
Dengan adanya proyek ini, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pencapaian target sustainable development dalam pengelolaan limbah, sekaligus menunjukkan kemajuan dalam inovasi lingkungan yang berbasis teknologi.
🔎 Kesimpulan:
Kolaborasi pemerintah dengan Danantara dalam pembangunan fasilitas PSEL merupakan langkah bersejarah bagi upaya modernisasi pengelolaan limbah di Indonesia. Dengan target ratusan ton sampah diolah setiap harinya menjadi listrik dan didukung investasi strategis, proyek ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah kota, tetapi juga mendorong energi bersih dan ekonomi berkelanjutan di masa depan